
SENI MAEN PUKULAN SABENITENABANG
Profil Perguruan
Seni Maen Pukulan Sabeni Tenabang adalah aliran silat asli Betawi dari kawasan Tanah Abang yang dirancang sepenuhnya untuk efektivitas pertarungan nyata, tanpa menggunakan elemen tarian (ngibing). Ciri khas mutlak dari silat ini terletak pada pertarungan jarak rapat dengan gerakan tangan berkecepatan tinggi yang dipadukan secara sinkron dengan teknik sapuan kaki untuk membanting musuh. Karena absennya unsur kembangan, aliran Sabeni mengandalkan prinsip kecepatan maksimum, keluwesan menghindar, dan penyerangan lugas tanpa celah. Kepraktisannya ini menjadikannya salah satu sistem bela diri street-fight paling ditakuti dan sangat dihormati oleh jawara-jawara di seantero wilayah ibu kota. Reputasi kekuatan Sabeni bahkan diakui luas, hingga teknik-tekniknya kerap diadopsi oleh berbagai aliran silat lain sebagai materi pelengkap jurus andalan mereka.
Sejarah & Warisan
Ilmu maen pukul mematikan ini diwariskan pertama kali oleh Sabeni bin Canam (1860–1945), tokoh pendekar kharismatik Betawi, yang mulanya menjadikannya sebagai ilmu rahasia internal keluarga besar. Menyadari pentingnya pelestarian dan bekal pertahanan diri anak-anak muda Tanah Abang, keilmuan ini perlahan diajarkan ke masyarakat umum melalui putranya, M. Ali Sabeni. Estafet warisan berharga tersebut kemudian dipegang oleh generasi ketiga, Zul Bachtiar Sabeni, yang mengemban amanah sebagai pewaris tunggal hingga beliau berpulang pada 6 April 2025. Saat ini, nyala obor pelestarian silat Sabeni terus dikobarkan tanpa lelah oleh barisan murid seniornya—di antaranya Ncang Faisal, Bang Guruh, Bang Taufik, dan Bang Benny—dari markas mereka di Kebon Jahe, Tanah Abang.