
GERAK GULUNG BUDI DAYA TI PADJAJARAN
Profil Perguruan
Gerak Gulung Budi Daya (GGBD) adalah aliran silat tradisional warisan Kerajaan Padjajaran yang berpusat di Bogor. Berbeda dengan konsep perguruan umum, GGBD mengutamakan prinsip kekeluargaan di mana tidak ada istilah "Guru dan Murid", melainkan "Kakak dan Adik".
Fokus utama aliran ini adalah pembinaan akhlak dan silaturahmi. Selain jurus utama, GGBD juga mencakup varian permainan seperti Gerak Leang dan Gerak Sambut Pukul. Keanggotaan bersifat sakral dan harus melalui proses Taleq. Saat ini, pelestarian ilmu diteruskan oleh para Rakawira (pelatih resmi) yang telah diberi izin.
Sejarah & Warisan
Awalnya, aliran ini bernama Gulung Maung yang bersifat tertutup dan sangat mematikan (kembangna cilaka, buahna pati) dengan tokoh awal Eyang Sarean. Perubahan besar terjadi pada masa Eyang Guru H. Abdullah (1800–1916). Melalui hasil istikharah, beliau mengubah nama menjadi Gerak Gulung Budi Daya dan memperhalus gerakannya—mengambil inspirasi dari gerakan shalat dan fase tumbuh kembang manusia—sehingga tidak lagi sebuas karakter harimau pembunuh.
Ilmu ini kemudian diwariskan kepada H. Ace Aom Kusumaningrat dan keluarganya, termasuk pengembangan jurus khusus wanita oleh Ibu Tresmen Megantara. Pada masa Horis Kusumaningrat (1930-1999), GGBD mulai dibuka untuk umum setelah sebelumnya hanya diajarkan di lingkungan keluarga. Sejak itu, banyak praktisi beladiri yang datang berguru, dan tradisi ini kini dilanjutkan oleh murid-murid senior (Rakawira) seperti Kang Iyus, Mas Heri, Kang Awang, dan Kang Dani.